| Dahnil Anzar : Banten, Bak Punguk Merindukan Bulan |
|
|
| Tuesday, 04 October 2011 | |
|
![]() TANGERANG KOTA – Disayangkan, diusianya yang menginjak 11 tahun paska terpisahnya Banten dari provinsi Jawa Barat hingga saat ini belum ada perubahan yang signifikan, bahkan Banten tidak mampu menjawab harapan rakyat untuk menjadi lebih sejahtera dalam memperoleh hak pelayanan publik yang lebih baik. Banten bak Pungguk Merindukan Bulan, kesejahteraan yang hadir justru 11 Tahun Banten ’Terjebak pada kesenjangan’. Demikian dikatakan Pengamat Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang Banten, Dahnil Anzar kepada Bantenpost, Selasa (04/09) petang.
Menurutnya ada 4 (empat) kesenjangan yang hadir di ranah Banten. Pertama, kesenjangan makro ekonomi, dimana ada kesenjangan lebar antara potensi pertumbuhan ekonomi dengan aktual pertumbuhan ekonomi, Banten sebenarnya layak tumbuh diatas 7 persen tetapi faktanya hanya mampu tumbuh moderat rata-rata diangka 5 persen “ Bayangkan, jika bandingkan dengan Gorontalo dan Babel yang usianya sama dengan Propinsi Banten mampu tumbuh diatas 7 persen,” ungkapnya. Kedua, cetus Dahnil, kesenjangan atara makro ekonomi yakni PDRB dengan kesejahteraan sosial ekonomi, dengan PDRB yang tinggi lebih dari Rp. 150 Triliun pertahun. Ternyata permasalahan kesejahteraan sosial ekonomi tetap tidak mampu hadir, Banten menjadi daerah dengan tingkat penggangguran tertinggi di Indonesia mencapai 13,59 persen, “Kemiskinan yang masih tinggi di selatan Banten dan pelayanan publik seperti kesehatan dan pendidikan masih sangat buruk,” cetus Dahnil yang juga Dosen Untirta. Sedangkan, kesenjangan antar Kabupaten/kota di Banten, semakin lebar, lanjut Dahnil. Kota Tangerang bisa tumbuh mencapai 10 persen Tangsel 7 persen, tetapi daerah selatan seperti Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak serta Kabupaten Serang hanya tumbuh 3 persen. Menurut suami dari Heni Novitasari ini, kesenjangan kapasitas fiskal dengan kesejahteraan dan pelayanan publik, dengan PAD lebih dari Rp. 2 Triliun dan APBD Rp. 3,7 Triliun merupakan kapasitas fiskal yang besar dan mandiri tetapi infrastruktur jalan 63 persen rusak. “Kesejahteraan absen, kemiskinan tetap ramai di Banten,” ketus pria jebolan UI ini. (ZIE/JNA) Sumber : http://bantenpost.com/welcome/pageUtama/BU03839 |
| Next > |
|---|




